PERKEMBANGAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM : PADA ERA GLOBAL DAN MODERN

PERKEMBANGAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM : PADA ERA GLOBAL DAN MODERN

(Naguib al-Attas dan Hasan Langgulung)

Oleh : Zulkarnain Yani

Abstrak

Pendidikan menurut Islam didasarkan pada asumsi bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah yaitu dengan membawa “potensi bawaan” seperti potensi “keimanan”, potensi untuk memikul amanah dan tanggung jawab, potensi kecerdasan, potensi fisik. Dengan potensi ini manusia mampu berkembang secara aktif dan interaktif dengan lingkungannya dan dengan bantuan orang lain atau pendidik secara sengaja agar menjadi manusia muslim yang mampu menjadi khalifah dan mengabdi kepada Allah.

Upaya membangun pendidikan Islam berwawasan global bukan persoalan mudah, karena pada waktu bersamaan pendidikan Islam harus memiliki kewajiban untuk melestarikan, menamkan nilai-nilai ajaran Islam dan dipihak lain berusaha untuk menanamkan karaktek budaya nasional Indonesia dan budaya global. Tetapi, upaya untuk membangun pendidikan Islam yang berwawasan global dapat dilaksanakan dengan langkah-langkah yang terencana dan strategis.

Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran secara utuh konsepsi tentang perkembangan pemikiran pendidikan Islam pada masa global yang diwakili oleh Naguib al-Attas dan masa modern yang diwakili Hasan Langgulung dengan menggunakan konsepsi ta’lim, tarbiyah dan ta’dib. Naguib al-Attas menghendaki agar pendidikan Islam mampu menghasilkan manusia paripurna, insan kamil yang bercirikan universal dalam wawasan dan otoritatif dalam ilmu pengetahuan, dengan kata lain manusia yang mencerminkan pribadi Nabi Muhammad SAW.

Hasan Langgulung mengatakan bahwa pendidikan Islam pada akhirnya harus mampu mengeluarkan dan membentuk manusia Muslim, kenal dengan agama dan Tuhannya, berakhlak al-Qur’an, tetapi juga mengeluarkan manusia yang mengenal kehidupan, sanggup menikmati kehidupan yang mulia, dalam masyarkaat yang bebas dan mulia, sanggup memberi dan membina masyarakat itu, mendorong dan mengembangkan kehidupan disitu melalui pekerjaan tertentu yang dikuasainya

Keywords : Ta’lim, Tarbiyah dan Ta’dib.

Pendahuluan

Hakikatnya, pendidikan merupakan upaya mewariskan nilai, yang akan menjadi penolong dan penuntun umat manusia dalam menjalani kehidupan dan sekaligus untuk memperbaiki nasib dan peradaban umat manusia. Tanpa pendidikan dapat dipastikan bahwa manusia sekarang tidak berbeda dengan generasi manusia masa lampau. Karena itu, secara ekstrim dapat dikatakan bahwa maju mundur atau baik buruknya peradaban suatu masyarakat atau bangsa sangat ditentukan oleh bagaimana proses pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa tersebut. (Kasinyo Harto, 2002: 89).

J. Adler mengartikan pendidikan sebagai proses dimana semua kemauan manusia (bakat dan kemampuan yang diperoleh) yang dapat dipengaruhi oleh pembiasaan, disempurnakan dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik melalui sarana yang secara artistik dibuat dan dipakai oleh siapapun untuk membantu orang lain atau dirinya sendiri mencapai tujuan yang ditetapkan yaitu kebiasaan yang baik (Arifin, 1994: 12).

Bila dilihat dari perspektif Pendidikan Islam, pendidikan dapat diartikan sebagai upaya menjadikan manusia sebagai khalifatullah fi Ardh yang tetap dalam keadaan menghambakan diri kepada Allah (‘Abdullah). Hal ini terlihat pada definisi yang diberikan para ahli. Seperti Omar Muhammad al-Toumy al-Syaebani, misalnya mengartikan pendidikan Islam sebagai usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses kependidikan, perubahan itu dilandasi dengan nilai-nilai Islam.

Dapat dipahami bahwa pendidikan Islam itu merupakan satu proses yang tidak hanya menyangkut transfer ilmu, akan tetapi bagaimana menjadikan manusia makhluk berakhlak dengan akhlak yang baik serta dari hasil pendidikan itu dapat membantu kehidupan diri dan kemasyarakatannya dengan berlandasan ajaran Islam. Faktor agama tampaknya memang tak dapat dipisahkan dari hubungannya dengan perilaku manusia, baik secara individu maupun secara kelompok. Manusia mempunyai kebutuhan keagamaan yang instrinsik yang tidak dapat dijelaskan melalui sesuatu yang mengatasinya dan yang diturunkan dari kekuatan-kekuatan supranatural. (Rohmalina Wahab, 2002: 110).

Terlepas dari penjelasan diatas, makalah ini akan berbicara tentang tahap-tahap perkembangan pemikiran pendidikan Islam, terutama pada masa global dan modern dengan terlebih dahulu kita akan menjumpai klasifikasi dari perkembangan pemikiran pendidikan Islam dari awal yang meliputi: masa perkembangan awal yang terjadi pada Rasul dan Sahabat, kemudian pada masa klasik dengan tokohnya Imam al-Ghazali dan Ikhwan al-Shafa, dan terakhir sampai pada masa global dan modern. Pada masa global dan modern ini akan diwakili dengan kehadiran dua tokoh pemikir pendidikan Islam yaitu Syed Naguib al-Attas dan Hasan Langgulung yang akan kembali merumuskan suatu konsep pendidikan Islam yang utuh.

Pemikiran Pendidikan Islam Syed Naguib al-Attas

1. Riwayat Hidup Syed Naguib al-Attas

Syed Muhammad Naguib al-Attas (selanjutnya akan digunakan dengan sebutan Naguib al-Attas) lahir di Bogor Jawa Barat pada tanggal 5 September 1931. Ia adik kandung dari Prof. DR. Husein al-Attas, seorang ilmuwan dan pakar psikologi di Universitas Malaya Kuala Lumpur Malaysia. Ayahnya bernama Syed Ali bin Abdullah al-Attas, sedangkan ibunya bernama Syarifah Raguan al-Idrus, keturunan kerabat raja-raja Sunda Sukapura Jawa Barat. (Ismail SM, 1999:271). Sedangkan pihak ayah masih tergolong bangsawan di Johor. (Samsul Nizar, 2002:117) dan masih berasal dari Arab yang silsilahnya merupakan keturunan ulama dan ahli tasawuf yang terkenal dari kalangan Sayyid (Ismail SM, 1999:271).

Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa dalam sejarah kerajaan Islam Nusantara atau Semenanjung Malaka, pada waktu itu merupakan suatu hal yang biasa jika seorang ulama besar dari Timur Tengah mempersunting anggota keluarga kerajaan dan Naguib al-Attas adalah buah dari hasil pernikahan seperti itu. Latar belakang keluarga ini mennjukkan bahwa Naguib al-Attas memang bukan datang dari kelompok sosio-kultural biasa, akan tetapi dari kaum ningrat. Dalam dirinya mengalir tidak saja darah biru namun semangat dan emosi keagamaan yang luhur akan kesucian pribadi seperti yang diajarkan dalam dunia tasawuf. (Fazlur Rahman, 1997:87).

Ketika berusia 5 tahun, Naguib al-Attas diajak orang tuanya migrasi ke Malaysia. Di sini, Naguib al-Attas dimasukkan dalam pendidikan dasar Ngee Heng Primary School sampai usia 10 tahun. Melihat perkembangan yang kurang menguntungkan yakni ketika Jepang menguasai Malaysia, maka Naguib al-Attas dan keluarga pindah lagi ke Indonesia. Di sini, Ia kemudian melanjutkan pendidikan di sekolah Urwah al-Wusqa, Sukabumi selama tahun 1942-1945. Di tempat ini, Naguib al-Attas mulai mendalami dan mendapatkan pemahaman tradisi Islam yang kuat, terutama tarekat. Hal bisa dipahami, karena pada saat itu di Sukabumi telah berkembang perkumpulan Tareqat Naqsabadiyah. (Samsul Nizar, 2002:118).

Ketika tinggal di Johor Baru, ia tinggal bersama dan dibawah didikan saudara ayahnya Encik Ahmad, kemudian dengan ibu Azizah hingga perang dunia kedua meletus. Pada tahun 1936-1941 ia belajar di Ngee Neng English Primary School di Johor Baru. Pada tahun 1946 Naguib al-Attas melanjutkan pelajaran di Bukit Zahrah School dan setersnya di English College Johor pada tahun 1946-1949. (Ismail SM, 1999:271). Di dalam lingkungan kaum ningrat ini, Naguib al-Attas mengenyam sistem pendidikan modern.

Setelah menamatkan pendidikan dengan sistem modern di English College, akhirnya Naguib al-Attas melanjutkan pendidikannya di dunia militer. Pendidikan militernya dimulai di Laskar tentara gabungan Malaysia-Inggris dengan pangkat perwira kadet. Kecemerlanganya dalam dunia militer ini membuat ia terpilih untuk melanjutkan latihan dan studi ilmu militer di Easton Hall Chester Inggris dan kemudian di Royal Militery Academy Sandhurst Inggris pada tahun 1952-1955 dengan pangkat terakhir Letnan. (Saiful Muzani, 1991:90).

Setelah menyelesaikan studinya pada Royal Militery Academy Sandhurst Inggris tahun 1955, Naguib al-Attas melanjutkan studinya di Departemen Social Sciences Studies di Universitas Malaya pada tahun 1957-1959. Kemudian pada tahun 1960-1962 ia melanjutkan pendidikannya di Mc Gill University Montreal Canada untuk kajian keislaman (Islamic Studies) hingga memperoleh gelas MA dengan nilai yang membanggakan dalam bidang teologi dan metafisika Islam (Redaksi, 1987:15). Tidak lama kemudian, pada tahun 1963-1964 melalui sponsor Sir Richard Winstert dan Sir Morimer Wheeler dari British Academy ia mendapat kesempatan untuk melanjutkan studi di School of Oriental and African Studies, University of London, yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai pusat kaum orientalis. (Ismail SM, 1999:271).

Secara umum, pendidikan Naguib al-Attas bermula di Sukabumi-Indonesia dan Johor-Malaysia. Setamat dari sana, ia masuk militer di Inggris. Kemudian ia kuliah di Universitas Malaya (UM) di Singapura. Untuk selanjutnya ia meneruskan studinya hingga memperoleh gelar MA dan Ph.D masing-masing dari Mc Gill University, Montreal di Kanada dan University of London di Inggris dengan fokus kajian pada teologi dan metafisika Islam. (www.jaring.my/istac/staff/staff.htm, 12 Februari 2002).

2. Pemikiran Pendidikan Syed Muhammad Naguib al-Attas Tentang Pendidikan Islam

a. Pengertian Pendidikan Islam

Dalam bahasa Arab, terdapat tiga terminologi yang merujuk kepada konsep pendidikan, yakni Ta’lim, Tarbiyah dan Ta’dib. Naguib al-Attas memberikan pengertian kritis tentang penggunaan ketiga istilah tersebut. Istilah Tarbiyah, menurut ia untuk menggambarkan pendidikan Islam terlalu dipaksakan. Pengertian yang terkandung di dalam istilah tersebut tidak mewakili hakikat dan proses pendidikan Islam secara penuh. Karena itu, ia meyakini bahwa istilah tersebut tidak tepat digunakan untuk mengartikan pendidikan Islam, atas dasar paling sedikit tiga argumen. (Naguib al-Attas, 1992:65-74).

Pertama, bahwa dalam leksikon utama bahasa Arab, tidak ditemukan penggunaan istilah tarbiyah yang dipahamidengan pengertian Pendidikan yang khusus bagi manusia sesuai dengan perspektif Islam. Menurut beberapa sumber sebagaimana yang dikutip Naguib al-Attas. Ibnu Manzur mencatat bahwa akar kata dari istilah tarbiyah adalah kata rabba ( ) dan rabba ( ).

Menurut Asma’i istilah-istilah tersebut memuat makna yang sama. Mengenai maknanya, al-Jauhari menegaskan bahwa makna ini mengacu kepada segala sesuatu yang tumbuh, seperti anak-anak, tanaman dan sebagainya. Penerapan kata tarbiyah, dengan demikian tidak terbatas pada manusia saja, melainkan meluas pada species-specieslain seperti tanaman dan hewan. Medan semantiknya yang luas ini menyebabkan istilah tarbiyah tidak tepat untuk mengartikan pendidikan yangdalam konsep Islam hanya berlaku untuk manusia. Dalam pernyataan Naguib al-Attas itu disebutkan bahwa dengan istilah tarbiyah orang bisa mengacu kepada peternakan hewan dan perkebunan. Padahal pendidikan dalam Islam adalah sesuatu yang khusus untuk manusia.

Kedua, sebagaimana yang digunakan dalam al-Qur’an, arti istilah tarbiyah tidak mencerminkan faktor-faktor esensial pengetahuan dan intelektual yang pada dasarnya merupakan komponen-komponen inti dalam pendidikan Islam yang sesungguhnya. Pengertian ini memang tidak berjauhan dari pemakaiannya sebagaimana terdapat dalam Q.S. Al-Isra’:24 berbunyi:

Artinya: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkalah: Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (Departemen Agama, 1989:428).

Naguib al-Attas mengartikan kata tarbiyah tersebut dengan “membesarkanku”, sehingga ayat tersebut diartikannya: Apabila dianjurkan oleh Allah untuk menurunkan syap kerendahan hati karena kasih sayang kepada orang tua kita dan berdoa. “Tuhanku! Ampunilah mereka sebagaimana mereka telah membesarkanku diwaktu kecil” (Naguib al-Attas, 1992:70). Naguib al-Attas juga menyimpulkan bahwa tarbiyah merupakan usaha membawa anak kepada kondisi yang lebih baik atas dasar rahmat atau kasih sayang dan pemberian yang tidak melibatkan pengetahun dan intelektual. Dua yang terakhir ini menurutnya merupakan inti dari proses pendidikan.

Ketiga, kalaupun istilah tarbiyah bisa diberikan pengertian yang berkaitan dengan pengetahuan, maka konotasinya cenderung kepada pemilikan pengetahuan bukan kepada proses penanamannya. Bagi naguib al-Attas inti dari proses pendidikan yang sebenarnya adalah “proses penanaman”, bukan kepada pemilikannya. (Naguib al-Attas, 1992: 72).

Naguib al-Attas secara jelas mengemukakan ketidaksetujuannya atas penggunaan istilah tarbiyah untuk menunjuk pendidikan Islam seperti apa yang diutarakannya:

Tarbiyah dalam konotasinya yang sekarang menurut pendapat saya merupakan istilah yang relatif baru yang bisa dikatakan telah dibuat-buat oleh orang-orang yang mengaitkan dirinya dengan pemikiran modernis. Istilah tersebut dimaksudkan untuk mengungkapkan makna pendidikan tanpa memperhatikan sifatnya yang sebenarnya…. Mereka yang membuat-buat istilah tarbiyah untuk maksud pendidikan pada hakikatnya mencerminkan konsep Barat tentang pendidikan. Mengingat istilah tarbiyah adalah suatu terjemahan yang jelas dari istilah education menurut artian Barat. (Naguib al-Atta, 1992:72).

Kata education, yang berarti pendidikan (John M. Echols dan Hasan Shadily, 1996:207) secara konseptual dikaitkan dengan kata-kata lain educare yang menurut Naguib al-Attas berarti menghasilkan, mengembangkan dari kepribadian yang tersembunyi atau potensial, yang didalamnya proses menghasilkan dan mengembangkan mengacu kepada segala sesuatu yang bersifat fisik atau material. (Naguib al-Attas, 1992:64).

Merujuk kepada istilah tarbiyah, nampaknya istilah tersebut tidak terbatas pada manusia, akan tetapi menyusup jauh dan dapat diterapkan untuk berbagai spesies. Dengan demikian, istilah tarbiyah dari segi semantik tidak mewadahi dan tidak tepat untuk menunjuk arti pendidikan dalam Islam.

Naguib al-Attas menawarkan sebuah istilah yang dianggapnya dapat menggambarkan pengertian pendidikan Islam dalam keseluruhan esensinya yang fundamental. Dan nampaknya Naguib al-Attas lebih cenderung menggunakan istilah ta’dib untuk konsep pendidikan, bukan tarbiyah. Alasannya bahwa kata tarbiyah secara semantik tidak khusus ditujukan untuk mendidik manusia, akan tetapi dapat dipakai pada species lain, seperti mineral, tanaman dan hewan. Selain itu tarbiyah berkonotasi material yang mengandung arti: mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membuat, menjadika bertambah dalam pertumbuhan, membesarkan, memproduksi hasil-hasil yang sudah matang dan menjinakkan. Sementara ta’dib sasarannya jelas yakni khusus hanya untuk manusia. (Naguib al-Attas, 1992:66-67).

Dalam istilah ta’dib, pengetahuan lebih ditonjolkan daripada kasih sayang. Dalam sturktur konseptualnya ta’dib sudagh mencakup unsur-unsur pengetahuan (‘ilm), pengajaran (ta’lim) dan pengasuhan yang baik (tarbiyah). Karenanya, tidak perlu lagi untuk mengacu kepada konsep pendidikan dalam Islam sebagai tarbiyah, ta’lim dan ta’dib sekaligus. Karena itu, ta’dib merupakan istilah yang paling tepat dan cermat utnuk menunjukkan pendidikan dalam arti Islam. (Naguib al-Attas, 1992:74-75).

Dari sini sudah digambarkan, nampaknya Naguib al-Attas melihat ta’dib sebagai suatu sistem pendidikan Islam yang didalamnya terdiri dari tiga sub sistem yaitu: pengetahuan (‘ilm), pengajaran (ta’lim) dan pengasuhan yang baik (tarbiyah). Jadi tarbiyah dalam konsep Naguib al-Attas merupakan satu dari sub sistem yang berasal dari ta’dib.

Secara bahasa, kata ta’dib merupakan bentuk masdar dari kata addaba ( ). Yang berarti memberi adab, mendidik (Muhamamd Yunus, 1972:37). Sementara Az-Zajjaj sebagaimana yang dikutip Naguib al-Attas, mengartikannya sebagai cara Tuhan mengajar Nabi-Nya. Sedangkan Naguib al-Attas sendiri memberi makna ta’dib dengan pendidikan. (Naguib al-Attas, 1992:60). Pendidikan, lanjutnya, adalah meresapkan dan menanamkan adab pada diri manusia, ini adalah ta’dib. (Naguib al-Attas, 1981:222).

Dari sini secarfa sederhana dapat diketahui bahwa apa yang dimaksudkan denagn ta’din dalam terminologi Naguib al-Attas adalah suatu upaya peresapan dan penanaman adab pada diri manusia dalam proses pendidikan. Disamping itu, adab merupakan suatu muatan atau kandungan yang harus ditanamkan dalam proses pendidikan Islam.

Selanjutnya, Naguib al-Attas mengingatkan akan munculnya beberapa akibat serius sebagai konsekuensi logis yang timbul dari dampak tidak dipakainya konsep ta’dib sebagai proses pendidikan, yaitu:

1. Kebingungan dan kesalahan dalam pengetahuan

2. Hilangnya adab di dalam pergaulan

3. Bangkitnya pemimpin-pemimpin yang tidak memenuhi syarat kepemimpinan yang absah dalam umat Islam, yang tidak memiliki standar moral, intelektual dan spritual yang tinggi, yang dibutuhkan bagi kepemimpinan. (Naguib al-Attas, 1992:76)

Dengan merujuk kepada konsep adab, Naguib al-Attas mendefinisikan pendidikan dan prosesnya yang dalam hal ini ta’dib adalah sebagai berikut:

Pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam manusia tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan sedemikian rupa, sehingga hal ini membimbing ke arah pengenalan tempat Tuhan yang tepat di dalam tatanan wujud dan keberadaan. (Naguib al-Attas, 1992:61-62).

Beranjak dari definisi pendidikan dan prosesnya, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pemikiran pendidikan Naguib al-Attas lebih menekankan pada penanaman adab pada diri manusia di dalam proses pendidikan. Penekanan pada penanaman adab dimaksudkan agar ilmu yang diperoleh diamalkan secara baik dan tidak disalahgunakan.

Dalam hubungannya dengan definisi pendidikan Islam yang dipaparkan oleh Naguib al-Attas diatas, nampaknya sejalan dengan apa yang telah diawali oleh al-Ghazali. Al-Ghazali menekankan betapa pentingnya masalah adab dalam pendidikan Islam, seperti apa yang diutarakannya: “Seorang alim hendaknya menggeluti ilmu secara terus menerus tapi juga mengamalkan ilmu yang dimilikinya”. (Al-Ghazali, 1992:18).

b. Tujuan Pendidikan Islam

Berbicara tentang tujuan pendidikan Islam, berarti berbicara tentang nilai-nilai yang bercorak Islami. Dalam hal ini Naguib al-Attas lebih menitikberatkan pada pembentukan aspek pribadi individu dari pada masyarakat. Namun jika dicermati bahwa penitikberatan pada diri pribadi individu tersebut, tidak berarti mengabaikan terbentuknya suatu masyarakat yang ideal. Hal ini seperti apa yang diutarakannya: “Karena masyarakat terdiri dari perseorangan-perseorangan maka membuat setiap orang atau sebagian besar diantaranya menjadi orang-orang baik berarti pula menghasilkan suatu masyarakat yang baik”. (Al-Ghazali, 1991:54).

Dengan demikian Naguib al-Attas meyakini bahwa masyarkaat akan menjadi lebih baik apabila individunya baik. Hal ini merupakan akibat logis dari pandangan dunianya yakni kebaikan dan kebenaran yang bersumber dari Tuhan melimpah lebih dahulu melalui individu, karena individu menempati posisi lebih tinggi dalam hirarki realitas dibanding dengan masyarakat.

Dalam terminologi Naguib al-Attas, untuk menghasilkan manusia yang baik agaknya perlu diawali dengan pembinaan diri pribadi individu itu sendiri, karena dengan pembinaan diri pribadi individu menjadi baik, maka secara otomatis akan menghasilkan masyarakat yang baik. Naguib al-Attas menghendaki agar pendidikan Islam mampu menghasilkan manusia paripurna, insan kamil yang bercirikan universal dalam wawasan dan otoritatif dalam ilmu pengetahuan, dengan kata lain manusia yang mencerminkan pribadi Nabi Muhammad SAW. (Saiful Muzani, 1991:94).

c. Kurikulum Pendidikan Islam

Naguib al-Attas dalam hal ini tidak memberikan suatu definisi tentang kurikulum seperti kebanyakan para ahli pendidikan lainnya. Bagi Naguib al-Attas, rumusan kurikulum itu merupakan suatu hal yang lebih mudah jika telah dipahami definisi dan bentuk pendidikan dalam Islam. (Naguib al-Attas, 1992:13).

Menurut Naguib al-Attas, dalam penyusunan kurikulum pendidikan yang terlebih dahulu ditetapkan adalah ruang lingkup dan kandungan ilmu pada tingkat universitas. Langkah ini perlu karena dalam pemikirannya perwujudan yang paling tinggi dan sempurna dalam sistem pendidikan Islam adala pada tingkat universitas, maka formulasi kandungannya harus diutamakan. Dalam hal ini seperti apa yang dikatakannya:

Ruang lingkup dan kandungan pada tingkat universitas harus lebih dahulu dirumuskan sebelum bisa diproyeksikan ke dalam tahapan-tahapan yng lebih sedikti secara berurutan ke tingkat-tingkat yang lebih rendah, mengingat tingkat universitas mencerminkan perumusan sistemasi yang paling lengkap dan paling tinggi, dan hanya jika hal ini bisa dicapai barulah dia akan menjadi model bagi yang berada dibawahnya. (Naguib al-Attas, 1992:88).

d. Visabilitas Pemikiran Syed Naguib al-Attas bagi Pendidikan Islam Dewasa ini

Berdasarkan kondisi pendidikan Islam ini, sebagaimana yang telah disekripsikan diatas. Maka pemikiran pendidikan Islam yang ditawarkan oleh Naguib al-Attas nampaknya memiliki relevansi dan signifikansi yang tinggi serta layak untuk dipertimbangkan sebagai solusi alternatif untuk diaktualisasikan dalam dunia pendidikan Islam. Karena pada dasarnya ia merupakan konsep pendidikan yang berusaha untuk mengintegrasikan dikotomi ilmu pengertahuan dan menjaga keseimbangan yang bercorak moral-religius.

Apabbila ditelaah dengan cermat, bahwa pemikiran Naguib al-Attas adalah lebih mengarah kepada pendidikan yang bercorak moral-religius dengan tetap menjaga keseimbangan dan keterpaduan sistem. Hal tersebut seperti tersirat dalam konsepnya tentang adab yang menurutnya telah mencakup konsep ilmu dan amal. Ini dimaksudkan bahwa setelah manusia dikenalkan kepada posisinya dalam tatanan kosmik lewat proses pendidikan, amalan tersebut tentunya berdasarkan etika dan ajaran agama. Dengan kata lain, bahwa penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dilandasi dengan pertimbangan ajaran agama.

Hal ini merupakan indikator bahwa apa yang telah ditawarkan oleh Naguib al-Attas nampaknya mengacu kepada aspek moral-transendental (afektif) meskipun juga tidak mengabaikan aspek sensual logis (kognitif) dan sensual empirik (psikomotorik). Ini relevan dengan aspirasi pendidikan Islam, yakni aspirasi yang bernafaskan moral dan agama. Karena dalam taksonomi pendidikan Islam, dikenal adanya aspek moral-transendental, yaitu domain iman disamping tiga domain: kognitif, afektif dan psikomotorik yang dikembangkan oleh B.S. Bloom. (Muhaimin, 1991:72-73).

Domain Imam sangat diperlukan dalam pendidikan Islam, karena ajaran Islam tidak hanya menyangkut hal-hal rasional saja, akan tetapi juga menyangkut hal-hal yang supra-rasional, dimana akal manusia tidak akan mampu menangkapnya kecuali didasari dengan iman yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadits. Domain iman merupakan titik sentral yang hendak menentukan nilai yang dimiliki dan amal yang dilakukan.

Dari uraian diatas, format pemikiran pendidikan yang ditawarkan oleh Naguib al-Attas, beliau nampaknya berusaha untuk menampilkan wajah pendidikan Islam sebagai suatu sistem pendidikan terpadu. Hal tersebut dapat secara jelas dapat dilihat dari tujuan pendidikan yang dirumuskannya, yakni tujuan akhir dari pendidikan Islam adalah untuk mewujudkan manusia yang baik, yaitu manusia universal (insan kamil).

Pemikiran Pendidikan Masa Hasan Langgulung

1. Riwayat Hidup Hasan Langgulung

Prof. DR. Hasan Langgulung lahir di Rappang Sulawesi Selatan. Pendidikan Dasar dilaluinya di Rappang dan Makassar. Sekolah Menengah Pertama dan Seklah Islam di Makassar pada tahun 1949-1952. Ia menempuh studi di Islamic Studies dari fakultas Da al-Ulum, Cairo University pada tahun 1962, gelar Diploma of Education diperolehnya dari Ein Shams University, Cairo pada tahun 1963. Kemudian mendapatkan gelar MA dalam bidang Psikologi dan Mental Hyegine pada Ein Shams University, Cairo tahun 1967, selanjutnya ia memperoleh gelar Diploma dalam bidang Sastra Arab Modern dari Institut of Higher Arab Studies, Arab Leage, Cairo pada tahun 1964. Gelar PhD diperolehnya dalam bidang Psikologi dari University of Georgia Amerika Serikat pada tahun 1971.

Beliau pernah mengajar di University Kebangsaan Malaysia sebagai Profesor senior selama beberapa tahun dan sekarang beliau mengajar di University Islam Antar Bangsa Kuala Lumpur, Malaysia juga sebagai Profesor Senior pada tahun 2002. Ia mendapat penghargaan Profesior Agung (Royal Profesor) pada tahun 2002 di Kuala Lumpur, Malaysia oleh masyarakat akademik Dunia. (Hasan Langgunlung, 2003:241).

2. Pemikiran Pendidikan Islam Hasan Langgulung

a. Pengertian Pendidikan Islam

Istilah Pendidikan Islam dalam pandangan Hasan Langgulung digunakan sekurang-kurangnya untuk 8 (delapan) pengertian dan dalam konteks yang berbeda yaitu:

1. Pendidikan Keagamaan (al-Tarbiyah al-Diniyah)

2. Pengajaran Agama (al-Ta’lim al-Islami)

3. Pengajaran Keagamaan (al-Ta’lim al Dinity)

4. Pendidikan Keislaman (al-Ta’lim al-Islami)

5. Pendidikan dalam Islam (al-Tarbiyah fi al-Islam)

6. Pendidikan di kalangan orang Islam (al-Tarbiyah Inda al-Muslimin)

7. Pendidikan orang-orang Islam (Tarbiyah al-Muslimin)

8. Pendidikan Islam (al-Tarbiyah al-Islamiyah)

Untuk memahami betul-betul pengertian yang ditulis tentang apa yang dimaksudkan pendidikan Islam (al-Tarbiyah al-Islamiyah) menurut Hasan Langgulung kita harus dapat menggabungkan istilah pendidikan dalam Islam (al-Tarbiyah fi al-Islam) dan pendidikan di kalangan orang-orang Islam (al-tarbiyah Inda al-Muslimin) dengan penegrtian yang dimaksud adalah:

Kerangka pemikiran yang menangani berbagai masalah-masalah pengajaran dan konsep-konsep pendidikan dalam asas-asas teoritisnya dan media praktisnya seperti yang dinyatakan di dalam al-Qur’an dan Sunnah sebagai dasar pokok, kemudian menerima sumbangan-sumbangan pemikiran (al-Turath a-Fikr) yang telah dibawa pakar-pakar dalam berbagai bidang seperti ulama-ulama fiqih, ulama-ulama hadits, ulama-ulama falsafah dan ahli-ahli fikir Islam sepanjang sejarah. (Hasan Langgulung, 2002:68-69).

b. Kurikulum Pendidikan Islam

Pendidikan akhlaq adalah pusat yang di sekelilingnya berputar program dan kurikulum pendidikan Islam. Dapat kita ringkaskan tujuan pokok pendidikan Islam dalam satu perkataan: Fadillah (sifat yang utama). Filosof-filosof Islam sepakat bahwa Pendidikan Akhlaq adalah jiwa pendidikan Islam. Sebab tujuan pertama dan termulia pendidikan Islam adalah menghaluskan akhlaq dan mendidik jiwa.

Yang dimaksud akhlaq dan fadilah disini ialah bahwa manusia berkelakuan dalam kehidupannya sesuai dengan kemanusiaannya, yaitu kedudukan mulia yang diberikan kepadanya oleh Allah melebihi makhluk-makhluk yang lain, ia diangkat sebagai khalifah. Dari itu maka ilmu adalah jalan ke arah pendidikan akhlaq itu dan untuk sampai kepada fadilah itu. Dengan syarat ia bukanlah ilmu teoritis tetapi ilmu praktis, yaitu ia haruslah diterjemahkan ke dalam kenyataan yang hidup yang merapkan ketinggian akhlaq bagi individu, perpaduan dan intedependen bagi kumpulan, kemajuan peradaban yang terus menerus dimana terlaksana kebaikan untuk individu dan kumpulan sekaligus.

Kurikulum dalam pendidikan islam bersifat fungsional, tujuannya mengeluarkan dan membentuk manusia Muslim, kenal agama dan Tuhannya, berakhlaq al-Qur’an, tetapi juga mengeluarkan manusia yang mengenal kehidupan, sanggup menikmati kehidupan yang mulia, dalam masyarakat bebas dan mulia, sanggup memberi dan membina masyarakat itu, mendorong dan mengembangkan kehidupan di situ melalui pekerjaan tertentu yang dikuasainya. (Hasan Langgulung, 1992; 117-118).

c. Pendekatan dalam Pendidikan Islam

Hasan Langgulung menyimpulkan tentang pendekatan dalam pendidikan Islam yang terbagi ke dalam tiga pendekatan Hasan Langgulung, 1992:71; Pendekatan Pertama mengganggap pendidikan sebagai Pengembangan Potensi. Pendekatan kedua cenderung melihatnya sebagai pewarisan budaya. Sedang Pendekatan ketiga menganggapnya sebagai Interaksi antara potensi dan budaya. Dimana ketiga pendekatan diatas tidak dapat berjalan sendiri-sendiri.

1) Pengembangan Potensi

Kalau sifat-sifat Tuhan yang berjummlah 99 diaktualisasikan pada diri dan perbuatan manusia niscaya ia merupakan potensi yang tak terkira banyaknya. Ini menggambarkan bagaimana komplikasinya potensi yang dimiliki manusia. Sehingga kalau ia diletakkan di sebuah lingkungan tanpa sumber hidup sama sekali, ia tetap survive, karena potensi yang dimilikinya itu. Sehingga potensi manusia sebagai karunia Tuhan itu haruslah dikembangkan, sedang pengembangan potensi sesuai dengan petunjuk Tuhan itulah yang disebut ibadah. Jadi, kalau tujuan kejadian manusia adalah ibadah dalam pengertian pengembangan potensi-potensi, maka akan bertemu dengan tujuan tertinggi (ultimate aim) pendidikan Islam untuk mencipta manusia ‘abid (penyembah Allah). (Hasan Langgulung, 1989:161).

2) Pewarisan Budaya

3) Interaksi Antar Potensi dan Budaya

Dalam kaitannya dengan Islam, interaksi antara potensi dan budaya ini lebih menonjol sebab baik potensi yang berupa roh Allah yang disebut fitrah, seperti dinyatakan dalam hadits yang artinya: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hanya orang tuanya menyebabkan ia menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi” (HR Bukhari), ataupun agama yang diwahyukan kepada Rasul itu juga adalah fitrah, seperti firman Allah yang artinya: “Fitrah Allah yang menciptakan manusia sesuai dengannya”. (Q.S. 30:30).

Jadi, fitrah sebagai potensi yang melengkapi manusia semenjak lahir dan fitrah sebagai din yang menjadi pondasi tegaknya peradaban Islam. Pendeknya, fitrah dipandang dari dua sudut yang berlainan. Dari satu segi adalah potensi, dari segi lain ia adalah din. Yang satu adalah roh Allah (Q.S. 15:29) sedang segi yang lain adalah perkataan (kalam) Allah. Dalam sejarah pendidikan Islam, kita akan melihat bagaimana pendekatan-pendekatan pendidikan ini beroperasi dengan memperhitungkan aspek-aspek lingkungan dimana ia berada, tanpa melupakan tujuan kejadian manusia. (Hasan Langgulung, 1989:161).

d. Strategi Pendidikan Islam

Strategi pendidikan yang diusulkan oleh Hasan Langgulung (2002:74-83) terdiri dari tiga komponen utama, yaitu tuuan, dasar dan prioritas dalam tindakan.

1) Tujuan

Ada dua pokok yang ingin dicapai oleh pendidikan Islam, yaitu; pembentukan insan yang shaleh dan beriman kepada Allah dan agama-Nya dan pembentukan masyarakat yang shaleh yang mengikuti petunjuk agama Islam dalam segala urusannya.

a. Pembentukan Insan Shaleh

Yang dimaksudkan dengan insan shaleh adalah manusia yang mendekati kesempurnaan. Yang dimaksud pembentukan insan shaleh dan beriman kepada Allah tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka menyembah kepada-Ku. (Q.S. 51:56) manusia yang penuh keimanan dan takwa, berhubung dengan Allah memelihara dan menghadap kepada-Nya dalam segala perbuatan yang dikerjakan dan segala tingkah laku yang dilakukannya, segala fikiran yang tergores dihatinya dan segala perasaan yang berdetak dijantungnya. Ia juga bersifat benar, jujur, ikhlas memiliki rasa keindahan dan memiliki keseimbangan;

1) Pada kepribadiannya: suatu aspek tidak melebihi yang lain. Jasad, jiwa, akal dan roh semuanya bertumbuh dan pertumbuhannya terpadu

2) Ia memakmurkan dunia dan mengeluarkan hasilnya

3) Insan shaleh dalam Islam terbuka kepada jagad raya, merasakan bahwa ia sebagian yang tidak terpisah daripadanya dan senantiasa mencari rahasia dan hikmahnya

4) Ia bekerja karena kerja itu pada dasarnya adalah ibadah dan kerjanya itu tidak hanya bertujuan mencari rizki

5) Dalam ibadahnya kepada Allah, ia merasa berdikari, kuat dan kukuh karena ia wujudnya bergantung kepada Allah

b. Pembentukan Masyarakat Shaleh

Pendidikan Islam pad atahap pembentukan masyarkaat adalah pada perkara-perkara berikut:

1) Menoong masyarakat membina hubungan-hubungan sosial yang serasi, setia kawan, kerjasama, interindependen dan seimbang

2) Mnegukuhkan hubungan di kalangan kaum Muslimin dan menguatkan kesetiakawanan melalui penyantuan pemikiran, sikap nilai-nilai. Ini semua bertujuan menciptakan ksesatuan Islam

3) Menolong masyarakat Islam mengembangkan diri dari segi perekonomian

4) Memberi sumbangan dalam perkembangan masyarakat Islam. Yang dimaksud dengan perkembangan adalah penyesuaian dengan tuntutan kehidupan modern dengan memelihara identitas Islam karena Islam tidak bertentangan dengan perkembangan dan pembaharuan Islam.

5) Mengukuhkan identitas budaya Islam

Inilah tujuan-tujuan terpenting yang ingin dicapai oleh pendidika Islam. Untuk mencapai tujuan-tujuan ini, pendidikan Islam haruslah bertolak dari berbagai dasar pokok yang dapat disimpulkan sebagai berikut:

2. Dasar-dasar Pokok

Dasar-dasar pokok pendidikan di dunia Islam adalah ajaran Islam itu sendiri, diantaranya:

a. Keutuhan (Syumuliyah)

b. Keterpaduan

1) Patutlah pendidikan Islam dalam memperlakukan individu bahwa ia memperhitungkan ciri-ciri kepribadiannnya: jasad, jiwa, akan dan yang berkaitan secara organik, berbaut satu sama lain sehingga bila terjadi perubahan pada salah satu komponennya, maka akan berlaku perubahan-perubahan pada komponen-komponen yang lalu

2) Pendidikan Islam harus bertolak dari keterpaduan individu-individu di masayrakat Islam dan dari keterpaduan negara-negara Islam

c. Kesinambungan

1) Patutlah sistem pendidikan Islam itu memberi peluang belajar pada tiap tingkat umur, tingkat sekolah dan setiap suasana

2) Patutlah juga pendidikan itu selalu membaharui diri

d. Keaslian

1) Pendidikan Islam haruslah mengambil komponen-komponen, tujuan-tujuan, kandungan dan metode dalam kurikulumnya dari peninggalan Islam sendiri sebelum ia menyempurnakannya dengan unsur peradaban lain di dunia ini

2) Haruslah ia memberi prioritas kepada pendidikan kerohanian yang diajarkan oleh Islam

3) Pendidikan kerohanian Islam sejati menghendaki agar kita menguasai bahasa Arab, yaitu bahasa al-Qur’an dan Sunnah

4) Keaslian ini menghendaki juga pengajaran sains dan seni modern dalam suasana perkembangan dimana yang menjadi pedoman adalah aqidah Islam

e. Bersifat ilmiah

f. Bersifat pratikal

g. Kesetiakawanan

h. Keterbukaan

3) Prioritas Dalam Tindakan

Bertolak dari tujuan-tujuan dan dasar-dasar pokok yang telah dikemukakan, maka Hasan Langgulung memandang perlu adanya prioritas dari segi yang harus diberikan oleh orang-orang yang bertanggungjawab tentang pendidikan di dunia Islam. Komponen itu adalah:

a. Berusaha menyerap semua anak-anak yang mencapai umur sekolah dan membuat perancangan pendidikan dan ketrampilan minimun untuk membolehkan mereka, bagi yang tidak dapat melanjutkan pelajaran, memasuki kehidupan sehari-hari dengan modal ketrampilan yang terhormat

b. Melaksanakan berbagai jalur perkembangan tahap pendidikan dan membimbingnya ke arah yang fleksibel dan licin

c. Meninjau kembali kandungan dan kaedah pendidikan supaya sesuai dengan semangat Islam dan ajaran-ajarannya, dan berbaagai keperluan-keperluan ekonomi, teknik dan sosial

d. Mengukuhkan pendidikan agama dan akhlak dalam seluruh tahap dan bentuk pendidikan, supaya generasi baru dapat menghayati nilai-nilai Islam semenjak masa kecil

e. Kerjasama. Kerjasama adalah salah satu dari aspek utama yang harus mendapat perhatian besar dikalangan penanggungjawab-penanggungjawab pendidikan karena kesetiakawanan dan kesepaduan di antara negara-negara Islam

Inilah inti prioritas yang sepatutnya dijalankan oleh penanggung jawab pendidikan di tiap negara Islam untuk mencapai tujuan dari pendidikan Islam, yaitu pembentukan insan shaleh dan masayrakat yang shaleh.

Pendidikan Islam Menjelang Abad ke-21: Pandangan Islam Terhadap Masalah Pendidikan dan Pembangunan

Kita percaya bahwa pandangan universal terhadap pendidikan dan pembangunan seperti telah disebutkan diatas adalah sesuai dengan ajaran Islam. Hanya perlu kita ingat bahwa pada pandangan itu ada suatu unsur pokok dalam kehidupan individu dan masyarakat yang hiklang, unsur yang tanpa dia tidak mungkin berlaku pertumbuhan di negara-negara terbelakang dan di negara-negara Islam khusunya, yaitu dimensi kerohanian (spiritual).

Padangan Islam terhadap masalah ini terkandung dalam pandangan universal terhadap manusia, sebab unsur yang kita ingin kita didik adalah manusia yang dimuliakan oleh Allah di aats seluruh makhluk yang lain. (Q.S. 2:3o; Q.S. 38:26; Q.S. 17:70).

Pandangan Islam terhadap manusia bertolak dari prinsip tauhid kepada Allah SWT yang memandang alam jagat sebagai suatu sistem terpadu berdiri di atas keseimbangan antara roh dan badan agar manusia selamat dari pertikaian, perselisihan dan pertentangan dan juga agar jangan muncul pertentangan antara akal dan benda atau salah satunya mengatasi yang lain. Dengan demikian, kehidupan di dunia lurus dengan segala nikmat, keindahan dan keseimbangan yang ada padanya. Dengan itu juga manusia merasakan kesatuan yang menyeluruh (syamil) dan terpadu dirinya sendiri yang akan memberinya rasa percaya pada diri dan ketentraman dalam hati.

Dimensi rohani yang digambarkan oleh pendidikan Islam itu tak dapat difahami sebagai semata-mata tenggelam dalam ibadah formal sampai-sampai melupakan kewajiba-kewajiban keduniaan dan kewajiban masyarakat terhadap anggota-anggotanya. Tetapi yang dimaksud adalah bahwa pendidikan Islam itu harus diasaskan atas dasar pokok, yaitu bahwa manusia itu adalah makhluk Allah dan diberi tugas untuk memikul amanah sedang makhluk-makhluk lain tidak. Ia diperintah hidup di permukaan bumi sejalan dengan ajaran Ilahi. Dari sini dapat disimpulkan bahwa proses terpenting yang membentuk pandangan Islam terhadap pendidikan adalah:

Pertama, Generasi muda haruslah dididik menyembah Allah, ikut perintah-Nya, menunaikan fardhu-fardhu ibadah ini, dan berpegang teguh terhadap segala tuntutannya sepanjang hidupnya. Kedua, Generasi muda harud dididik hidup dalam masyarakat yang sehat mengakui prinsip persaudaraan, kerjasama, persamaan, partisipasi yang tegak di atas hak dan kewajiban dalam rangka sistem jaminan sosial (takaful iftima’y) yang diakui oleh Islam. Ketiga, Generasi muda harus dididik menggunakan akal. Sebab penggunaan akal merupakan keharusan bagi inti ‘aqidah yang pada dasarnya adalah tantangan terhadap akal tanpa paderi atau perantara. Penggunaan akal adalah dasar pokok bagi perintah menjalankan syari’at dan memikul amanah, sebab perintah menjalankan syari’at adalah berdasarkan pada kebebasan dan ikhtiar dengan petunjuk akan dan hati nurani.

Keempat, Generasi baru haruslah dididik bersifat terbuka kepada orang lain dan menjauhi sifat menyendiri dan tanpa berlebihan menonjolkan dirinya. Sebab peradaban Islam tegal di atas dialog yang membina dan prinsip memberi dan mengambil. Dengan itu ia dapat mencernakan pencapaian sains yang mekar pada peradaban-peradaban lain, malah ia menambahkan dan memperkayanya sehingga ia menciptakan peradaban ghemilang dan cemerlang dalam segala bidang ilmu dan pengetahuan. Kelima, Generasi baru haruslah dididik menggunakan pemikiran ilmiah dan menggunakan pencapaiannya itu dalam perencanaan dan penyelidikan-penyelidikan Islam adalah agama yang terbuka dalam hal ini, tidak tertutup dan tidak memusuhi ilmi dari manapun sumbernya. Malah kaum Muslimin lebih dahulu diajak menggunakannya, sebab”…….hanya orang-orang berilmulah yang lebih takut kepada Allah”. (Q.S. 35:28). (Hasan Langgulung, 2002:139-141).

Penutup

Ketika lahir, manusia tidak begitu saja mampu memahami fenomena sekeliling secara sadar dan benar. Semua itu butuh waktu dan arahan. Seingga pada saatnya nanti dia tidak hanya mampu memahami, tetapi juga mampu memanifestasikan kejadian demi kejadian menjadi sebuah realitas. Pada saat itulah sebagian realitas kemandiriannya sebagai makhluk berakal, telah ia sadari. Proses penyadaran inilah yang belakangan disebut pendidikan.

Pendidikan sebagai upaya menyiapkan generasi penerus agar dapat bersosialisasi dan beradaptasi dengan budaya yang mereka anut, sebenarnya merupakan salah satu tradisi umat manusia yang hampir setua usia manusia itu sendiri. Artinya, secara ilmiah ada upaya regenerasi. Sehingga eksistensi peradaban manusia dapat terjaga dan berkembang.

Naguib al-Attas sebagai salah satu tokoh pendidikan Islam pada era global menawarkan sebuah istilah yang dianggapnya dapat menggambarkan pengertian pendidikan Islam dalam keseluruhan esensinya yang fundamental. Dan nampaknya Naguib al-Attas lebih cenderung menggunakan istilah ta’dib untuk konsep pendidikan, bukan tarbiyah. Alasanya bahwa kata tarbiyah secara semantik tidak khusus ditujukan untuk mendidik manusia, akan tetapi dapat dipakai pada species lain,. Seperti mineral, tanaman dan hewan. Selain itu tarbiyah berkonotasi material yang mengandung arti: mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membuat, menjadikan bertambah dalam pertumbuhan, membersarkan, memproduksi hasil-hasil yang sudah matang dan menjinakkan. Sementara ta’dib sasarannya jelas yakni khusus hanya untuk manusia.

Berangkat dari definisi tersebut tentang pendidikan Islam. Maka, alam terminologi Naguib al-Attas, untuk menghasilkan manusia yang baik agaknya perlu diawali dengan pembinaan diri pribadi individu itu sendiri, karena dengan pembinaan diri pribadi individu menjadi baik, maka secara otomatis akan menghasilkan masyarakat yang baik. Naguib al-Attas menghendaki agar pendidikan mampu menghasilkan manusia paripurna, insan kamil yang bercirikan universal dala wawasan dan otoritatif dalam ilmu pengetahuan, dengan kata lain manusia yang mencerminkan pribadi Nabi Muhammad SAW.

Kemudian pada era modern muncul juga seorang tokoh pendidikan Islam yang sangat terkenal, yaitu Hasan Langgulung. Dalam pandangan Hasan Langgulung bahwa pendidikan Islam pada akhirnya harus mampu mengeluarkan dan membentuk manusia Muslim, kenal dengan agama dan Tuhannya, berakhlak al-Qur’an, tetapi juga mengeluarkan manusia yang mengenal kehidupan, sanggup menikmati kehidupan yang mulia, dalam masyarkaat yang bebas dan mulia, sanggup memberi dan membina masyarakat itu, mendorong dan mengembangkan kehidupan disitu melalui pekerjaan tertentu yang dikuasainya.


DAFTAR PUSTAKA

Al-Attas, Syed Muhammad Naguib., Konsep Pendidikan Islam: Suatu Rangka Pikir Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam, (terj.) Haidar Baqir, Bandung: Mizan:,1992

Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1994

Departemen Agama RI., Al-Qur’an dan Terjemahannya, Surabaya: Mahkota, 1989

Harto, Kasinyo., Rekontruksi Pendidikan Islam, dalam Jurnal Pendidikan Islam Conciencia, No. 2 Volume II, Desember 2002, hlm. 89

Ismail SM., Paradigma Pendidikan Islam Prof. DR. Syed Muhammad Naguib al-Attas, dalam Pemikiran Pendidikan Islam; Kajian Tokoh Klasik dan Kontemporer, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999

Langgulung, Hasan., Pendidikan Islam dalam Abad ke-21, Jakarta: Pustaka al-Husna Baru, 2003

Langgulung, Hasan., Strategi Pendidikan Islam Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia, dalam Jurnal Pendidikan Islam Conciencia, No. 2 Volume II, Desember 2002

Langgulung, Hasan., Asas-Asas Pendidikan Islam, Jakarta: Pustaka al-Husna, 1992

Langgulung, Hasan., Pendidikan Islam Indonesia; Mencari Kepastian Historis, dalam Islam Indonesia Menatap Masa Depan, Pengantar: Dawam Rahardjo, Jakarta: P3M, 1989

Langgulung, Hasan., Strategi Pendidikan Islam Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia, dalam Jurnal Pendidikan Islam Conciencia, No. 2 Volume II, Desember 2002

Lihat www.jaring.my/istac/staff/staff.htm, Directory, 12 Februari 2002

Muzani, Saiful., Pandangan Dunia dan Gagasan Islamisasi Ilmu Syed Muhammad Naguib al-Attas, dalam Al-Hikmah, No. 3, Juli-Oktober 1991

Nizar, Samsul., Filsafat Pendidikan Islam; Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, Jakarta: Ciputat Pers, 2002

Rahman, Fazlur., Tahun Perkembangan Yang Mantap Bagi Islam, dalam Al-Hikmah, No. 7, November-Desember 1997

Redaksi., Naguib al-Attas Versus Nurcholish Madjid, dalam Panji Masyarakat, No. 531, 21 Februari 1987

Wahab, Rohmalima., Pendidikan Islam dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, dalam Jurnal Pendidikan Islam Conciencia, No. 2 Volume II, Desember 2002

About these ads

Tentang zulkarnainyani

Zulkarnain dilahirkan pada tanggal 22 Nopember 1977 dari rahim seorang ibu yang sangat mulia ibunda tercinta Hj. Nur'aini HN, A.Md dan belaian kasih sayang seorang ayahanda tercinta H. Aliyani Damiri HS, pendidikan agama dan hidup disiplin diajarkan dan ditanamkan oleh kedua orang tua dari rumah, sejak kecil bercita-cita ingin menjadi seorang polisi. Pendidikan dimulai dari Taman Kanak-Kanak selama 2 tahun, kemudian pada usia 7 tahun memasuki jenjang pendidikan MIN 1 Teladan Palembang, selama 6 tahun menimba ilmu agama dan umum, setamat dari pendidikan dasar, pendidikan dilanjutkan ke jenjang berikutnya yaitu MTs Negeri II Palembang, selama 3 tahun belajar dan menimba ilmu, banyak torehan prestasi yang telah disumbangkan bagi sekolah dan kedua orang tuanya, sebanyak 20 piala tetap yang diperolehnya dan disumbangkan bagi sekolahnya tercinta, dari bidang prestasi pendidikan, menjadi juara II dari sejak kelas I - III dan pada akhirnya masuk dalam 6 besar. Setamat dari pendidikan menengah pertama, pendidikan dilanjutkan ke daerah orang, dengan tekad yang kuat dan membara merantau ke provinsi lampung, setelah melalui seleksi yang sangat ketat, selama 3 tahun menimba ilmu dibangku Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Lampung, ilmu agama dan ilmu umum pun didalami, banyak pengalaman berharga yang diperoleh selama menimba ilmu di lampung, kitab-kitab kuning yang dulu dibenci pada akhirnya menjadi kitab-kitab yang sangat dicintai. Dengan niat dan semangat yang kuat, berbekal do'a restu dari kedua orang tua dan saudara-saudara, untuk pertama kalinya pada pertengahan tahun 2006 mulai menapaki kaki di kota gudeg yogyakarta yang terkenal dengan sebutan kota pelajar, jurusan bahasa dan sastra arab menjadi pilihan untuk melanjutkan pendidikan bahasa arab yang telah menjadi modal awal hingga pilihan jatuh pada jurusan tersebut, begitu banyak ilmu yang diperoleh selama 4 tahun 4 bulan di bangku kuliah, organisasi kemahasiswaan pun tak luput dari perhatian, sejak semester 1 telah mengikuti kegiatan organisasi extra kampus yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), pada semester III dipercayai teman-teman di Rayon Fakultas Adab menjadi Ketua KORP, suatu elemen dari organisasi PMII yang menjadi payung bagi teman-teman yang baru aktif dan ingin eksis, pada semester V melalui Rapat Anggota Tahunan terpilih menjadi Ketua PMII Rayon Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta selama 1 tahun, pada tahun tersebut menjadi saksi bisu dimana menjadi tonggak runtuhnya rezim Orde Baru, pada semester VII disaat sedang menyusun tugas akhir (skripsi) teman-teman seperjuangan meminta untuk ikut serta dalam pesta demokrasi di kampus IAIN Sunan Kalijaga dan duduk sebagai anggota Senat Mahasiswa (SEMA) Institut, dengan bantuan moril dan do'a dari teman-teman keinginan tersebut dapat diwujudkan. Selama kurang lebih 1,5 tahun amanah tersebut dilaksanakan. Pada tahun 2000 tepat di bulan desember ujian munaqasyah, suatu tahapan akhir yang harus dilalui guna memperoleh gelar kesarjanaan pun dilewati dengan lancar, skripsi dengan judul Hamzah Fansuri wa Syi'ruhu Thair al-'Uryan; Dirasah Tahliliyah Maudhu'iyah pun menjadi saksi keberhasilan studi pada strata satu dengan IPK 3,58 predikat Cum Laude sebagai terbaik ke III untuk tingkat Fakultas Adab, selama 4 tahun 4 bulan tugas yang diberikan oleh kedua orang tua pun terselesaikan dengan hasil tersebut. Pada bulan Maret 2001, dengan niatan yang kuat dan keinginan tuk menuntuk ilmu pun menjadi modal untuk melangkahkan kaki ini ke kota Pare-Kediri, Jawa Timur guna memperkuat bahasa inggris yang selama ini dimiliki, selama kurang lebih 7 bulan berada di desa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, berbagai program diikuti mulai dari program general english, writing, translation sampai program TOEFL Preparation pun diambil dan berhasil memperoleh skor Prediction TOEFL 509. Pada pertengahan bulan Oktober 2001 pulang kembali ke kota kelahiran Palembang guna memberikan sumbangsih bagi keilmuan disana. Dengan berbekal ijazah S.1 dan 2 bahasa yang dimiliki, bahasa arab dan bahasa inggris, melamar sebagai guru honorer di MAN 2 Palembang, tugas pertama sebagai guru honor bahasa arab mengajar untuk kelas III sebanyak 9 kelas, pada semester genap 2001/2002 melamar ke Fakultas Adab IAIN Raden Fatah Palembang sebagai dosen honorer, mata kuliah naqd adaby dan bahasa inggris pun menjadi mata kuliah pertama yang diajarkan bagi mahasiwa semester 6 untuk mata kuliah naqd adaby dan mata kuliah bahasa inggris untuk mahasiswa semester 2. Selama 2 tahun sekembali dari perantauan, sejumlah lembaga pendidikan telah menjadi saksi penyebaran ilmu di kota palembang, diantaranya: Fakultas Adab IAIN Raden Fatah Palembang, MAN 2 Palembang, MA Paradigma Palembang, Universitas PGRI Palembang dan El-Rahma Education. Sejumlah ilmu pun telah disumbangkan diantaranya; Naqd Adaby, Teori Sastra, Bahasa Arab, Bahasa Inggris dan Agama Islam. Pada akhir tahun 2003 diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan ditugaskan pertama kali di Fakultas Adab IAIN Raden Fatah Palembang. Sejak Maret 2007 bergabung dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta, berawal sebagai staf pelaksana di instansi tersebut. Pada tahun 2009 mulai terlibat dalam tiga penelitian, antara lain : penelitian naskah klasik keagamaan:studi filologis, penelitian pemetaan dan inventarisasi naskah klasik keagamaan nusantara di Masyarakat dan penelitian pemetaan dan inventarisasi karya ulama nusantara di pondok pesantren. Sekarang sebagai peneliti dibidang lektur keagamaan pada Balai Litbang Agama Jakarta. Pendidikan S.2 pada Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Program Studi Kajian Islam dengan konsentrasi pada Filologi Islam.
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

2 Balasan ke PERKEMBANGAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM : PADA ERA GLOBAL DAN MODERN

  1. rusleda berkata:

    Salam, saudara. Saya penuntut dari Malaysia. Ingin mengetahui artikel anda di atas telah ditulis dalam jurnal ataupun tesis. saya ingin tahu tahun diterbitkan kerna ingin menjadikan rujukan tesis saya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s