PENGANTAR TEORI SEMIOTIK

PENGANTAR TEORI SEMIOTIK*

Oleh : Zulkarnain Yani, S.Ag

A. Pendahuluan

Semiotics is the theory and analysis of signs and significations. A semiotician like the early Barthes sees social and cultural life in terms of signification, and therefor in terms of the non-essential nature of objects…. Semiotics also studies the way that signs signify – in the conventional literaty texts and legal documents, or in advertisements and bodily conducts.”

Bahasa merupakan alat komunikasi yang terpenting dalam kehidupan manusia. Kata-kata yang dibentuk dalam bahasa diungkap melalui satu sistem perlambangan yang dapat difahami secara lisan mahupun tulisan. Kesemua ini terungkap dalam perututuran, gerak laku mahupun perbuatan. Kadang-kala, lambang-lambang yang digunakan dalam bahasa agak sukar difahami sehingga ianya memerlukan satu bentuk kajian melalui disiplin yang tertentu. Maka, disiplin inilah yang diterapkan melalui pendekatan semiotik. Ia adalah disiplin yang terbentuk hasil daripada gabungan beberapa bidang ilmu lain termasuk antropologi, lingusitik, psikologi, sosiologi dan beberapa lagi. Semiotik kemudiannya berkembang menjadi satu bentuk kajian yang bersifat saintifik.

Teori semiotik adalah di antara teori kritikan pascamodern yang penting dan banyak digunakan kini. Ia memahami karya sastera melalui tanda-tanda atau perlambangan-perlambangan yang ditemui di dalam teks. Teori ini berpendapat bahawa dalam sesebuah teks itu terdapat banyak tanda dan pembaca atau penganalisis harus memahami apa yang dimaksudkan dengan tanda-tanda tersebut.

Dalam pandangan semiotik – yang berasal dari teori Saussure – bahasa merupakan sebuah sistem tanda, dan sebagai suatu tanda bahasa mewakili sesuatu yang lain yang disebut makna. Bahasa sebagai suatu sistem tanda dalam teks kesastraan tidak hanya menyaran pada sistem (tataran) makna tingkat pertama (first-order semiotic system), melainkan terlebih pada sistem makna tingkat kedua (second-semiotic system). Hal ini sejalan dengan proses pembacaan teks kesastraan yang bersifat heuristik dan hermeneutik.

Teori struktural dan semiotik pada dewasa ini merupakan salah satu teori sastra (kritik sastra) yang terbaru di samping teori estetika resepsi dan dekonstruksi. Akan tetapi, teori ini belum banyak dimanfaatkan dalam bidang kritik sastra di Indonesia. Pada umumnya kritik sastra atau apa yang dinamakan kritik sastra di Indonesia dewasa ini, yang sudah ketinggalan dalam perkembangan kemajuan studi sastra pada umumnya.

Oleh karena itu, dalam pembicaraan ini dicoba untuk menerapkan teori tersebut dalam menganalisis sajak Indonesia untuk turut memperkembangkan studi sastra dalam kesusastraan Indonesia.

B. Pengertian Semiotik

Semiotika berasal dari kata Yunani: semeion, yang berarti tanda. Semieon adalah istilah yang digunakan oleh orang Greek untuk merujuk kepada sains yang mengkaji sistem perlambangan atau sistem tanda dalam kehidupan manusia. Daripada akar kata inilah terbentuknya istilah semiotik, iaitu kajian sastera yang bersifat saintifik yang meneliti sistem perlambangan yang berhubung dengan tanggapan dalam karya. Menurut Mana Sikana, pendekatan semiotik melihat karya sastera sebagai satu sistem yang mempunyai hubungan dengan teknik dan mekanisme penciptaan sebuah karya Ia juga memberi tumpuan kepada penelitian dari sudut ekspresi dan komunikasi.

Semiotik adalah sebuah disiplin ilmu sains umum yang mengkaji sistem perlambangan di setiap bidang kehidupan. Ia bukan saja merangkum sistem bahasa, tetapi juga merangkum lukisan, ukiran, fotografi mahupun pementasan drama atau wayang gambar. Ia wujud sebagai teori membaca dan menilai karya dan merupakan satu displin yang bukan sempit keupayaannya. Justeru itu ia boleh dimandatkan ke dalam pelbagai bidang ilmu dan boleh dijadikan asas kajian sebuah kebudayaan. Oleh kerana sosiologi dan linguistik merupakan bidang kajian yang mempunyai hubungan di antara satu sama lain, semiotik yang mengkaji sistem tanda dalam bahasa juga berupaya mengkaji wacana yang mencerminkan budaya dan pemikiran. Justeru, yang menjadi perhatian semiotik adalah mengkaji dan mencari tanda-tanda dalam wacana serta menerangkan maksud daripada tanda-tanda tersebut dan mencari hubungannya dengan ciri-ciri tanda itu untuk mendapatkan makna signifikasinya

Tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain yang dapat berupa pengalaman, pikiran, perasaan, gagasan dan lain-lain. Jadi, yang dapat menjadi tanda sebenarnya bukan hanya bahasa saja, melainkan berbagai hal yang melingkupi kehidupan ini – walau harus diakui bahwa bahasa adalah sistem tanda yang paling lengkap dan sempurna. Tanda-tanda itu dapat berupa gerakan anggota badan, gerakan mata, mulut, bentuk tulisan, warna, bendera, bentuk dan potongan rumah, pakaian, karya seni: sastra, lukis, patung, film, tari, musik dan lain-lain yang berada di sekitar kehidupan kita. Dengan demikian, teori semiotik bersifat multidisiplin – sebagaimana diharapkan oleh Pierce agar teorinya bersifat umum dan dapat diterapkan pada segala macam tanda.

Dalam pandangan Piliang, penjelajahan semiotika sebagai metode kajian ke dalam berbagai cabang keilmuan ini dimungkinkan karena ada kecenderungan untuk memandang berbagai wacana sosial sebagai fenomena bahasa. Dengan kata lain, bahasa dijadikan model dalam berbagai wacana sosial. Berdasarkan pandangan semiotika, bila seluruh praktik sosial dapat dianggap sebagai fenomena bahasa, semuanya dapat juga dipandang sebagai tanda. Hal ini dimungkinkan karena luasnya pengertian tanda itu sendiri.

Semiotika menurut Berger memiliki dua tokoh, yakni Ferdinand de Saussure dan Charles Sander Peirce. Kedua tokoh tersebut mengembangkan ilmu semiotika secara terpisah dan di antara keduanya tidak saling mengenal satu sama lain. Saussure di Eropa dan Peirce di Amerika Serikat. Latar belakang keilmuan Saussure adalah linguistik, sedangkan Peirce filsafat. Saussure menyebut ilmu yang dikembangkannya semiologi (semiology).

Semiologi menurut Saussure seperti dikutip Hidayat, didasarkan pada anggapan bahwa selama perbuatan dan tingkah laku manusia membawa makna atau selama berfungsi sebagai tanda, harus ada di belakangnya sistem pembedaan dan konvensi yang memungkinkan makna itu. Di mana ada tanda di sana ada sistem.

Sedangkan Peirce menyebut ilmu yang dibangunnya semiotika (semiotics). Bagi Peirce yang ahli filsafat dan logika, penalaran manusia senantiasa dilakukan lewat tanda. Artinya, manusia hanya dapat bernalar lewat tanda. Dalam pikirannya, logika sama dengan semiotika dan semiotika dapat diterapkan pada segala macam tanda. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah semiotika lebih populer daripada semiologi.

Semiotika adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda (sign), berfungsinya tanda, dan produksi makna. Tanda adalah sesuatu yang bagi seseorang berarti sesuatu yang lain. Dalam pandangan Zoest, segala sesuatu yang dapat diamati atau dibuat teramati dapat disebut tanda. Karena itu, tanda tidaklah terbatas pada benda. Adanya peristiwa, tidak adanya peristiwa, struktur yang ditemukan dalam sesuatu, suatu kebiasaan, semua ini dapat disebut tanda. Sebuah bendera kecil, sebuah isyarat tangan, sebuah kata, suatu keheningan, suatu kebiasaan makan, sebuah gejala mode, suatu gerak syaraf, peristiwa memerahnya wajah, suatu kesukaan tertentu, letak bintang tertentu, suatu sikap, setangkai bunga, rambut uban, sikap diam membisu, gagap, berbicara cepat, berjalan sempoyongan, menatap, api, putih, bentuk, bersudut tajam, kecepatan, kesabaran, kegilaan, kekhawatiran, kelengahan, semuanya itu dianggap sebagai tanda.

Menurut Saussure, seperti dikutip Pradopo tanda sebagai kesatuan dari dua bidang yang tidak dapat dipisahkan, seperti halnya selembar kertas. Di mana ada tanda di sana ada sistem. Artinya, sebuah tanda (berwujud kata atau gambar) mempunyai dua aspek yang ditangkap oleh indra kita yang disebut dengan signifier, bidang penanda atau bentuk dan aspek lainnya yang disebut signified, bidang petanda atau konsep atau makna. Aspek kedua terkandung di dalam aspek pertama. Jadi petanda merupakan konsep atau apa yang dipresentasikan oleh aspek pertama.

Lebih lanjut dikatakannya bahwa penanda terletak pada tingkatan ungkapan (level of expression) dan mempunyai wujud atau merupakan bagian fisik seperti bunyi, huruf, kata, gambar, warna, obyek dan sebagainya.

Petanda terletak pada level of content (tingkatan isi atau gagasan) dari apa yang diungkapkan melalui tingkatan ungkapan. Hubungan antara kedua unsur melahirkan makna. Tanda akan selalu mengacu pada (mewakili) sesuatu hal (benda) yang lain yang disebut referent. Lampu merah mengacu pada jalan berhenti. Wajah cerah mengacu pada kebahagiaan. Air mata mengacu pada kesedihan. Apabila hubungan antara tanda dan yang diacu terjadi, maka dalam benak orang yang melihat atau mendengar akan timbul pengertian..

Menurut Pierce, tanda (representamen) ialah sesuatu yang dapat mewakili sesuatu yang lain dalam batas-batas tertentu. Tanda akan selalu mengacu ke sesuatu yang lain, oleh Pierce disebut objek (denotatum). Mengacu berarti mewakili atau menggantikan. Tanda baru dapat berfungsi bila diinterpretasikan dalam benak penerima tanda melalui interpretant. Jadi interpretant ialah pemahaman makna yang muncul dalam diri penerima tanda. Artinya, tanda baru dapat berfungsi sebagai tanda bila dapat ditangkap dan pemahaman terjadi berkat ground, yaitu pengetahuan tentang sistem tanda dalam suatu masyarakat. Hubungan ketiga unsur yang dikemukakan Pierce terkenal dengan nama segitiga semiotik. Selanjutnya dikatakan, tanda dalam hubungan dengan acuannya dibedakan menjadi tanda yang dikenal dengan ikon, indeks, dan simbol.

Ikon adalah tanda yang antara tanda dengan acuannya ada hubungan kemiripan dan biasa disebut metafora. Contoh ikon adalah potret. Bila ada hubungan kedekatan eksistensi, tanda demikian disebut indeks. Tanda seperti ini disebut metonimi. Contoh indeks adalah tanda panah petunjuk arah bahwa di sekitar tempat itu ada bangunan tertentu. Langit berawan tanda hari akan hujan. Simbol adalah tanda yang diakui keberadaannya berdasarkan hukum konvensi. Contoh simbol adalah bahasa tulisan.

Ikon, indeks, simbol merupakan perangkat hubungan antara dasar (bentuk), objek (referent) dan konsep (interpretan atau reference). Bentuk biasanya menimbulkan persepsi dan setelah dihubungkan dengan objek akan menimbulkan interpretan. Proses ini merupakan proses kognitif dan terjadi dalam memahami pesan iklan.

Rangkaian pemahaman akan berkembang terus seiring dengan rangkaian semiosis yang tidak kunjung berakhir. Selanjutnya terjadi tingkatan rangkaian semiosis. Interpretan pada rangkaian semiosis lapisan pertama, akan menjadi dasar untuk mengacu pada objek baru dan dari sini terjadi rangkaian semiosis lapisan kedua. Jadi, apa yang berstatus sebagai tanda pada lapisan pertama berfungsi sebagai penanda pada lapisan kedua, dan demikian seterusnya.

Terkait dengan itu, Barthes mengemukakan teorinya tentang makna konotatif. Ia berpendapat bahwa konotasi dipakai untuk menjelaskan salah satu dari tiga cara kerja tanda dalam tatanan pertandaan kedua. Konotasi menggambarkan interaksi yang berlangsung tatkala tanda bertemu dengan perasaan atau emosi penggunanya dan nilai-nilai kulturalnya. Ini terjadi tatkala makna bergerak menuju subjektif atau setidaknya intersubjektif. Semuanya itu berlangsung ketika interpretant dipengaruhi sama banyaknya oleh penafsir dan objek atau tanda.

Bagi Barthes, faktor penting dalam konotasi adalah penanda dalam tatanan pertama. penanda tatanan pertama merupakan tanda konotasi. Jika teori itu dikaitkan dengan bekerjanya sebuah iklan layanan masyarakat, maka setiap pesan merupakan pertemuan antara signifier (lapisan ungkapan) dan signified (lapisan makna). Lewat unsur verbal dan visual (nonverbal), diperoleh dua tingkatan makna, yakni makna denotatif yang didapat pada semiosis tingkat pertama dan makna konotatif yang didapat dari semiosis tingkat berikutnya. Pendekatan semiotik terletak pada tingkat kedua atau pada tingkat signified, makna pesan dapat dipahami secara utuh.

C. Sejarah Semiotik

Semiotik adalah sains yang mengkaji sistem perlambangan yang telah bermula sejak zaman Greek lagi, yaitu; zaman Plato dan Aristotle. Kedua-dua tokoh tersebut telah memulakan sebuah teori bahasa dan makna. Namun tidak lama selepas itu, teori ini dirasakan tidak wajar, lalu kegunaan dan keunggulannya mula menjadi lemah.

Namun, pada abad ke 17, pendekatan semiotik mula mendapat perhatian John Locke, seorang ahli falsafah Inggeris untuk menjelaskan doktrin perlambangan ketika itu. Kali ini, kemunculan pendekatan semiotik beransur-ansur mendapat perhatian sehingga ia mula mendapat tempat di kalangan tokoh-tokoh yang terkemuka seperti Ferdinand de Saussure (1875-1913), seorang ahli linguistik Eropah dan Charles Sander Pierce (1839-1914), seorang ahli falsafah Amerika pada abad ke 19. Kedua-dua mereka telah merintis jalan bagi mengkaji dan menilai kesusasteraan melalui pendekatan semiotik.

Oleh kerana semiotik merupakan gabungan daripada disiplin-disiplin lain, telah ada usaha dari Saussure untuk memantapkan kedudukannya agar dapat mandiri dan berdiri sebagai satu disiplin yang autonomous. Sedikit demi sedikit, semiologi mula mendapat tempat melalui tulisan-tulisan Roland Barthes. Ia tidak lagi dilihat sebagai sebuah teori yang bersifat daerah yang hanya dibataskan kegunaannya untuk kajian bahasa dalam kesusasteraan sahaja. Malah, ia dapat diaplikasikan dalam semua persoalan hidup yang penuh dengan lambang dan perlambangan.

Maka Barthes telah berjaya memperluaskan skop serta peranan semiotik dengan mengaitkannya dengan bahasa dan kesusasteraan. Menurut Barthes, bahasa berpengaruh dalam semua aspek kehidupan dan ia boleh ditinjau melalui karya-karya yang terhasil. Karya merupakan cerminan realiti sebenar yang diungkap dalam bentuk tulisan.

Selain Barthes, semiotik merupakan satu bidang yang telah memikat ramai tokoh-tokoh serta ahli falsafah seperti Umberto Eco, Algirdas Julien Greimas, Louis Hjelmslev, Julia Kristeva, Charles Sander Pierce dan Tzvetan Todorov. Tokoh-tokoh tersebut menggunakan pendekatan semiotik untuk mengkaji karya dari berbagai aspek, iaitu daripada aspek perlambangan, imejan, ekspresi hinggalah ke aspek hermeneutik. Dari itu, dapat dilihat bahawa pendekatan semiotik telah mendapat tempat dalam kajian-kajian yang dihasilkan oleh tokoh-tokoh tersebut sehingga kekuatannya terbukti apabila ia dapat digunakan secara meluas di kalangan para pengkaji.

D. Tanda (Ikon, Indeks, Simbol)

Merujuk teorinya Pierce, maka tanda-tanda dalam gambar dapat dilihat dari jenis tanda yang digolongkan dalam semiotik. Di antaranya: ikon, indeks dan simbol. Ikon adalah tanda yang mirip dengan objek yang diwakilinya. Dapat pula dikatakan, tanda yang memiliki ciri-ciri sama dengan apa yang dimaksudkan. Misalnya, foto Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah ikon dari Pak Sultan. Peta Yogyakarta adalah ikon dari wilayah Yogyakarta yang digambarkan dalam peta tersebut. Cap jempol Pak Sultan adalah ikon dari ibu jari Pak Sultan.

Indeks merupakan tanda yang memiliki hubungan sebab akibat dengan apa yang diwakilinya. Atau disebut juga tanda sebagai bukti. Contohnya: asap dan api, asap menunjukkan adanya api. Jejak telapak kaki di tanah merupakan tanda indeks orang yang melewati tempat itu. Tanda tangan (signature) adalah indeks dari keberadaan seseorang yang menorehkan tanda tangan itu.

Simbol merupakan tanda berdasarkan konvensi, peraturan, atau perjanjian yang disepakati bersama. Simbol baru dapat dipahami jika seseorang sudah mengerti arti yang telah disepakati sebelumnya. Contohnya: Garuda Pancasila bagi bangsa Indonesia adalah burung yang memiliki perlambang yang kaya makna. Namun bagi orang yang memiliki latar budaya berbeda, seperti orang Eskimo, misalnya, Garuda Pancasila hanya dipandang sebagai burung elang biasa.

E. Kode.

Kode, merujuk terminologi sosiolinguistik ialah variasi tutur yang memiliki bentuk yang khas, serta makna yang khas pula. Sementara itu, kode menurut Piliang, adalah cara pengkombinasian tanda yang disepakati secara sosial, untuk memungkinkan satu pesan disampaikan dari seseorang ke orang lainnya. Di dalam praktik bahasa, sebuah pesan yang dikirim kepada penerima pesan diatur melalui seperangkat konvensi atau kode. Umberto Eco menyebut kode sebagai aturan yang menjadikan tanda sebagai tampilan yang konkret dalam sistem komunikasi.

Fungsi teks-teks yang menunjukkan pada sesuatu (mengacu pada sesuatu) dilaksanakan berkat sejumlah kaidah, janji, dan kaidah-kaidah alami yang merupakan dasar dan alasan mengapa tanda-tanda itu menunjukkan pada isinya. Tanda-tanda ini menurut Jakobson merupakan sebuah sistem yang dinamakan kode.

Kode pertama yang berlaku pada teks-teks ialah kode bahasa yang digunakan untuk mengutarakan teks yang bersangkutan. Kode bahasa itu dicantumkan dalam kamus dan tata bahasa. Selain itu, teks-teks tersusun menurut kode-kode lain yang disebut kode sekunder, karena bahannya ialah sebuah sistem lambang primer, yaitu bahasa. Sedangkan struktur cerita, prinsip-prinsip drama, bentuk-bentuk argumentasi, sistem metrik, itu semua merupakan kode-kode sekunder yang digunakan dalam teks-teks untuk mengalihkan arti.

Roland Barthes dalam bukunya S/Z mengelompokkan kode-kode tersebut menjadi lima kisi-kisi kode, yakni kode hermeneutik, kode semantik, kode simbolik, kode narasi, dan kode kultural atau kode kebudayaan. Uraian kode-kode tersebut dijelaskan Pradopo sebagai berikut:

Kode Hermeneutik, yaitu artikulasi berbagai cara pertanyaan, teka-teki, respons, enigma, penangguhan jawaban, akhirnya menuju pada jawaban. Atau dengan kata lain, Kode Hermeneutik berhubungan dengan teka-teki yang timbul dalam sebuah wacana. Siapakah mereka? Apa yang terjadi? Halangan apakah yang muncul? Bagaimanakah tujuannya? Jawaban yang satu menunda jawaban lain.

Kode Semantik, yaitu kode yang mengandung konotasi pada level penanda. Misalnya konotasi feminitas, maskulinitas. Atau dengan kata lain Kode Semantik adalah tanda-tanda yang ditata sehingga memberikan suatu konotasi maskulin, feminin, kebangsaan, kesukuan, loyalitas.

Kode Simbolik, yaitu kode yang berkaitan dengan psikoanalisis, antitesis, kemenduaan, pertentangan dua unsur, skizofrenia.

Kode Narasi atau Proairetik yaitu kode yang mengandung cerita, urutan, narasi atau antinarasi.

Kode Kebudayaan atau Kultural, yaitu suara-suara yang bersifat kolektif, anomin, bawah sadar, mitos, kebijaksanaan, pengetahuan, sejarah, moral, psikologi, sastra, seni, legenda.

F. Makna (Denotatif dan Konotatif)

Kita semua seringkali menggunakan makna tetapi sering kali pula kita tidak memikirkan makna itu. Ketika kita masuk ke dalam sebuah ruangan yang penuh dengan perabotan, di sana muncul sebuah makna. Seseorang sedang duduk di sebuah kursi dengan mata tertutup dan kita mengartikan bahwa ia sedang tidur atau dalam kondisi lelah. Seseorang tertawa dengan kehadiran kita dan kita mencari makna; apakah ia mentertawai kita atau mengajak kita tertawa? Seorang kawan menyeberang jalan dan melambaikan tangannya ke arah kita, hal itu berarti ia menyapa kita. Makna dalam satu bentuk atau bentuk lainnya, menyampaikan pengalaman sebagian besar umat manusia di semua masyarakat.

Semua makna budaya diciptakan dengan menggunakan simbol-simbol. Simbol mengacu pendapat Spradley adalah objek atau peristiwa apapun yang menunjuk pada sesuatu. Semua simbol melibatkan tiga unsur: pertama, simbol itu sendiri. Kedua, satu rujukan atau lebih. Ketiga, hubungan antar simbol dengan rujukan. Semuanya itu merupakan dasar bagi keseluruhan makna simbolik. Sementara itu, simbol sendiri meliputi apapun yang dapat kita rasakan atau alami.

Menggigil bisa diartikan dan dapat pula menjadi simbol ketakutan, kegembiraan atau yang lainnya. Mencengkeram gigi, mengerdipkan mata, menganggukkan kepala, menundukkan tubuh, atau melakukan gerakan lain yang memungkinkan, semuanya dapat merupakan simbol.

Salah satu cara yang digunakan para pakar untuk membahas lingkup makna yang lebih besar adalah dengan membedakan makna denotatif dengan makna konotatif.

Spradley menjabarkan makna denotatif meliputi hal-hal yang ditunjuk oleh kata-kata (makna referensial). Piliang mengartikan makna denotatif adalah hubungan eksplisit antara tanda dengan referensi atau realitas dalam pertandaan tahap denotatif, Misalnya, ada gambar manusia, binatang, pohon, rumah. Warnanya juga dicatat, seperti merah, kuning, biru, putih, dan sebagainya. Pada tahapan ini hanya informasi data yang disampaikan.

Spradley menyebut makna konotatif meliputi semua signifikansi sugestif dari simbol yang lebih daripada arti referensialnya. Menurut Piliang, makna konotatif meliputi aspek makna yang berkaitan dengan perasaan dan emosi serta nilai-nilai kebudayaan dan ideologi. Contohnya, gambar wajah orang tersenyum, dapat diartikan sebagai suatu keramahan, kebahagiaan. Tetapi sebaliknya, bisa saja tersenyum diartikan sebagai ekspresi penghinaan terhadap seseorang. Untuk memahami makna konotatif, maka unsur-unsur yang lain harus dipahami pula.

Menurut Williamson, dalam teori semiotika iklan menganut prinsip peminjaman tanda sekaligus peminjaman kode sosial. Misalnya, iklan yang menghadirkan bintang film terkenal, figur bintang film tersebut dipinjam mitosnya, idiologinya, imagenya, dan sifat-sifat glamour dari bintang film tersebut.

Williamson membagi a currency of sign menjadi beberapa bagian. Di antaranya product as signified (produk sebagai petanda, konsep atau makna), product as signifier (produk sebagai penanda, bentuk), product as generator, and product as currency.

Hal tersebut di atas adalah teori semiotika strukturalis. Kaum strukturalis mencoba mengungkapkan prinsip bahwa perbuatan manusia mengisyaratkan sistem yang diterima dari berbagai hubungan, yang diterapkan oleh Barthes kepada semua praktik sosial. Ia menafsirkan hal-hal itu sebagai sistem tanda yang beroperasi atas model bahasa.

Dalam semiotika struktural berpegang pada prinsip Form Follows Function, dengan mengikuti model semiotika penanda atau fungsi. Semiotika struktural mengacu pada Saussure dan Barthes dengan signifier (penanda, bentuk) dan signified (petanda, makna). Hubungan antara penanda dan petanda relatif stabil dan abadi.

Pada jantung strukturalisme menurut Pradopo, ada ambisi ilmiah untuk menemukan kode, aturan, sistem yang mendasari semua praktik sosial dan kebudayaan manusia. Sedangkan pascastrukturalis menurut Piliang, mengacu pada konsep intertekstualitas Julia Kristeva dan konsep dekonstruksi dari Jacques Derrida. Julia Kristeva misalnya, ia tergabung dalam Tel Quel Perancis menggunakan istilah intertekstualitas untuk menjelaskan fenomena dialog antarteks, kesalingtergantungan antara suatu teks (karya) dengan teks (karya) sebelumnya. Kristeva melihat kelemahan dalam konsep referensi dari formalisme dan modernisme yang cenderung melecehkan kutipan atau kuotasi. Bagi Kristeva, sebuah teks atau karya seni tidak lebih semacam permainan dan mosaik kutipan-kutipan dari berbagai teks atau karya masa lalu. Ia mengistilahkan semacam ruang ‘pasca sejarah’ yang di dalamnya beberapa kutipan dari berbagai ruang, waktu, dan kebudayaan yang berbeda-beda saling melakukan dialog. Sebagaimana yang dikemukakan Kristeva, sebuah teks (karya) hanya dapat eksis apabila di dalamnya, beberapa ungkapan yang berasal dari teks-teks lain, silang menyilang dan saling menetralisir satu dengan lainnya.

Sebagai proses linguistik dan diskursif, Kristeva menjelaskan intertektualitas sebagai pelintasan dari satu sistem tanda ke sistem tanda lainnya. Ia menggunakan istilah ‘transposisi’ untuk menjelaskan perlintasan di dalam ruang pascasejarah ini, yang di dalamnya satu atau beberapa sistem tanda digunakan untuk menginterogasi satu atau beberapa sistem tanda yang ada sebelumnya. Interogasi tekstual ini dapat menghasilkan ungkapan-ungkapan baru yang sangat kaya dalam bentuk maupun makna. Interogasi ini dapat berupa peminjaman atau penggunaan (pastiche), distorsi, plesetan, atau permainan makna untuk tujuan kritis, sinisme, atau sekadar lelucon (parodi), pengelabuhan identitas dan penopengan (camp), serta reproduksi ikonis atau kitch.

Sebuah teks postmodernisme bukanlah ekspresi tunggal dan individual sang seniman; kegelisahannya, ketakutannya, ketertekanannya, keterasingannya, kegairahannya atau kegembiraannya, melainkan sebuah permainan dengan kutipan-kutipan bahasa. Kecenderungan posmodernisme adalah menerima segala macam pertentangan dan kontradiksi di dalam karyanya, disebabkan bercampuraduknya berbagai bahasa. Teks posmodernisme, tidak bermakna tunggal, akan tetapi adalah aneka ragam bahasa masa lalu dan sudah ada, dengan asal muasal yang tidak pasti, yang di dalamnya aneka macam tulisan, tak satu pun di antaranya yang orisinal, bercampur dan berinteraksi. Teks adalah sebuah jaringan kutipan-kutipan yang diambil dari berbagai pusat kebudayaan yang tak terhitung jumlahnya.

Ciri-ciri pascastrukturalis: pertama, tanda tidak stabil, sebuah penanda tidak mengacu pada sebuah makna yang pasti. Dalam hal tertentu terjadi ambiguitas, yakni sesuatu yang dianggap sah. Kedua, membongkar hirarki makna. Pada oposisi biner, hirarki makna itu dibongkar. Ketiga, menciptakan heterogenitas makna, terbentuk pluralitas makna, pluralitas tanda yaitu persamaan hak dalam pertandaan.

Teori Kajian

Semiotik boleh berhadapan dengan genre apa pun. Ia boleh untuk memberikan penilaian yang adil dan saksama. Teori Semiotik beranggapan bahawa sebuah karya itu mempunyai sistemnya yang tersendiri, di mana, ia dapat diperlihatkan melalui sistem tanda dan kode yang terjelma di dalamnya. Oleh yang demikian, proses penciptaan yang melahirkan sistem karya itu juga menjadi penelitian. Ini termasuk sistem di luar karya yang dibawa masuk ke dalam karya; atau lebih tepat lagi kebudayaan seluruh masyarakat yang menjadi sumber inspirasi pengkaryaan tersebut.

Terdapat beberapa pengertian asas tentang perlambangan yang dikemukakan di kalangan ahli tokoh-tokoh semiotik terutama dalam bidang linguistik dan kesusasteraan umum. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelum ini, teori semiotik ini sangat luas dan dipelopori oleh beberapa tokoh dengan skop yang berbeza-beza. Maka, dalam pengkajian ini, teori semiotik yang dipelopori oleh Pierce akan digunakan. Dengan itu, prinsip-prinsip yang seperti ikon, indeks dan simbol turut digunakan dalam kajian ini.

Pendekatan semiotik memerlukan penganalisis mencari penggunaan tanda-tanda dalam sesebuah karya. Tanda-tanda tersebut diungkap melalui penanda, mengikut paradoks dan kontradisksi penggunaan stail dan mekanisme penciptaan sesebuah karya yang dikuasai oleh pengarang. Maka, penganalisis menggunakan semiotik untuk memberikan makna bagi tanda-tanda dalam teks yang dikaji.

Semiotik melihat karya dalam perspektif yang lebih luas. Prinsip kedua daripada pendekatan semiotik menuntut penganalisis memperhatikan hubungan sistem sesebuah teks yang dikaji dengan sistem yang ada di luar teks tersebut; iaitu segala perkara yang membawa kepada lahirnya teks tersebut. Ini merangkumi sistem hidup dan kebudayaan masyarakat yang menjadi sumber inspirasi penghasilan teks yang dikaji.

Segala ungkapan atau tanda-tanda yang dicerakinkan dari dalam teks memainkan peranan yang penting bagi kewujudan satu bentuk sistem dalam pembinaan teks tersebut. Maka, prinsip ketiga dalam pendekatan semiotik memberi penghargaan terhadap pengarang dan keperangannya. Ini menjelaskan bahawa terdapat sebab bagi penggunaan setiap ungkapan yang dihasilkan dalam teks kerana segalanya mempunyai pengertiannya yang tersendiri.

G. Kesimpulan

Sebagaimana yang telah dijelaskan, kajian ini akan didasari oleh teori semiotik yang dipelopori oleh Charles Sander Pierce. Pengkaji menganalisis teks dengan mencari dan menilai tanda-tanda yang digunakan melalui ikon, indeks dan simbol. Ikon merujuk kepada tanda-tanda yang menjadi bebayang, yang mirip mahupun yang menerupai sesuatu benda atau perkara. Indeks pula merujuk kepada tanda-tanda yang terhasil daripada sesuatu fenomena, simptom ataupun sesuatu perkara yang bersebab. Manakala, simbol pula merujuk kepada perlambangan yang sedia difahami dan membawa pengertian.

Akhirnya perlu dikemukakan bahwa kajian semiotik pada dekade terakhir ini tampak sedang mendapat “pasaran”. Kajian struktural, dipihak lain, seolah-olah menjadi ketinggalan zaman, atau kurang memberikan sumbangan yang berarti. Namun sebenarnya, seperti dikatakan Wahl, perbedaan antara srukturalisme dengan semiotik kabur. Yang jelas, semiotik merupakan perkembangan yang lebih kemudian dari strukturalisme. Selain itu, dalam praktik kajian teks kesastraan, kedua pendekatan tersebut sama-sama muncul, dan yang membedakannya barangkali “hanya” masalah penekanan atau niat peneliti. Oleh karena itu, kajian yang “lebih aman” dapat berupa penggabungan keduanya : struktural-semiotik, baik hanya terhadap satu teks maupun antarteks (kesastraan), seperti yang berupa kajian intetekstual.

Daftar Pustaka

Barthes, Roland. 1974. S/Z. Penerjemah Richard Miller. New York: Hill and Wang, buku asli diterbitkan tahun 1970.

Barthes, Roland. 1998. The Semiotics Challenge. New York: Hill and Wang

Berger, Arthur Asa. 2000. Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer. Penerjemah M. Dwi Marianto dan Sunarto. Yogyakarta: Penerbit PT Tiara Wacana, buku asli diterbitkan tahun 1984.

Culler, Jonathan., 1977, Structuralist Poetics, Structuralism, Linguistic and the Study of Literature, Ithaca, New York; Cornell University Press.

Eco, Umberto. l979. A Theory of Semiotics. Bloomington: Indiana University Press.

Hoed, Benny H., 1968, Dampak Komunikasi Periklanan; Sebuah Ancangan dari Segi Semiotika, Jakarta; Makalah Seminar Semiotika.

Noth, Winfriend. 1995. Handbook of Semiotics. Blommington and Indianapolis: Indiana University Press.

Nurgiyantoro, Burhan., 1998, Teori Pengkajian Fiksi, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Piliang, Yasraf Amir. l999. Hiper-Realitas Kebudayaan. Yogyakarta: LKiS.

Pradopo, Rachmat Djoko., 1995, Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik dan Penerapannya, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Saussure, Ferdinand de. 1998. Pengantar Linguistik Umum. Penerjemah Rahayu S. Hidayat. Yogyakarta: Gadjahmada University Press, buku asli diterbitkan tahun 1973

Spradly, James, P. 1997. Metode Etnografi.Penerjemah Misbah Zulfa Elizabeth. Yogyakarta: Penerbit PT Tiara Wacana.

Williamson, Judith. 1984. Decoding Advertisements, Ideology and Meaning in Advertising. London: Marion Boyars Publishers Ltd, 24 Lacy Road.


* Disajikan dalam Diskusi Kajian Teoritik pada hari Selasa tanggal 23 September 2008 di Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta.

About these ads

Tentang zulkarnainyani

Zulkarnain dilahirkan pada tanggal 22 Nopember 1977 dari rahim seorang ibu yang sangat mulia ibunda tercinta Hj. Nur'aini HN, A.Md dan belaian kasih sayang seorang ayahanda tercinta H. Aliyani Damiri HS, pendidikan agama dan hidup disiplin diajarkan dan ditanamkan oleh kedua orang tua dari rumah, sejak kecil bercita-cita ingin menjadi seorang polisi. Pendidikan dimulai dari Taman Kanak-Kanak selama 2 tahun, kemudian pada usia 7 tahun memasuki jenjang pendidikan MIN 1 Teladan Palembang, selama 6 tahun menimba ilmu agama dan umum, setamat dari pendidikan dasar, pendidikan dilanjutkan ke jenjang berikutnya yaitu MTs Negeri II Palembang, selama 3 tahun belajar dan menimba ilmu, banyak torehan prestasi yang telah disumbangkan bagi sekolah dan kedua orang tuanya, sebanyak 20 piala tetap yang diperolehnya dan disumbangkan bagi sekolahnya tercinta, dari bidang prestasi pendidikan, menjadi juara II dari sejak kelas I - III dan pada akhirnya masuk dalam 6 besar. Setamat dari pendidikan menengah pertama, pendidikan dilanjutkan ke daerah orang, dengan tekad yang kuat dan membara merantau ke provinsi lampung, setelah melalui seleksi yang sangat ketat, selama 3 tahun menimba ilmu dibangku Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) Lampung, ilmu agama dan ilmu umum pun didalami, banyak pengalaman berharga yang diperoleh selama menimba ilmu di lampung, kitab-kitab kuning yang dulu dibenci pada akhirnya menjadi kitab-kitab yang sangat dicintai. Dengan niat dan semangat yang kuat, berbekal do'a restu dari kedua orang tua dan saudara-saudara, untuk pertama kalinya pada pertengahan tahun 2006 mulai menapaki kaki di kota gudeg yogyakarta yang terkenal dengan sebutan kota pelajar, jurusan bahasa dan sastra arab menjadi pilihan untuk melanjutkan pendidikan bahasa arab yang telah menjadi modal awal hingga pilihan jatuh pada jurusan tersebut, begitu banyak ilmu yang diperoleh selama 4 tahun 4 bulan di bangku kuliah, organisasi kemahasiswaan pun tak luput dari perhatian, sejak semester 1 telah mengikuti kegiatan organisasi extra kampus yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), pada semester III dipercayai teman-teman di Rayon Fakultas Adab menjadi Ketua KORP, suatu elemen dari organisasi PMII yang menjadi payung bagi teman-teman yang baru aktif dan ingin eksis, pada semester V melalui Rapat Anggota Tahunan terpilih menjadi Ketua PMII Rayon Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta selama 1 tahun, pada tahun tersebut menjadi saksi bisu dimana menjadi tonggak runtuhnya rezim Orde Baru, pada semester VII disaat sedang menyusun tugas akhir (skripsi) teman-teman seperjuangan meminta untuk ikut serta dalam pesta demokrasi di kampus IAIN Sunan Kalijaga dan duduk sebagai anggota Senat Mahasiswa (SEMA) Institut, dengan bantuan moril dan do'a dari teman-teman keinginan tersebut dapat diwujudkan. Selama kurang lebih 1,5 tahun amanah tersebut dilaksanakan. Pada tahun 2000 tepat di bulan desember ujian munaqasyah, suatu tahapan akhir yang harus dilalui guna memperoleh gelar kesarjanaan pun dilewati dengan lancar, skripsi dengan judul Hamzah Fansuri wa Syi'ruhu Thair al-'Uryan; Dirasah Tahliliyah Maudhu'iyah pun menjadi saksi keberhasilan studi pada strata satu dengan IPK 3,58 predikat Cum Laude sebagai terbaik ke III untuk tingkat Fakultas Adab, selama 4 tahun 4 bulan tugas yang diberikan oleh kedua orang tua pun terselesaikan dengan hasil tersebut. Pada bulan Maret 2001, dengan niatan yang kuat dan keinginan tuk menuntuk ilmu pun menjadi modal untuk melangkahkan kaki ini ke kota Pare-Kediri, Jawa Timur guna memperkuat bahasa inggris yang selama ini dimiliki, selama kurang lebih 7 bulan berada di desa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, berbagai program diikuti mulai dari program general english, writing, translation sampai program TOEFL Preparation pun diambil dan berhasil memperoleh skor Prediction TOEFL 509. Pada pertengahan bulan Oktober 2001 pulang kembali ke kota kelahiran Palembang guna memberikan sumbangsih bagi keilmuan disana. Dengan berbekal ijazah S.1 dan 2 bahasa yang dimiliki, bahasa arab dan bahasa inggris, melamar sebagai guru honorer di MAN 2 Palembang, tugas pertama sebagai guru honor bahasa arab mengajar untuk kelas III sebanyak 9 kelas, pada semester genap 2001/2002 melamar ke Fakultas Adab IAIN Raden Fatah Palembang sebagai dosen honorer, mata kuliah naqd adaby dan bahasa inggris pun menjadi mata kuliah pertama yang diajarkan bagi mahasiwa semester 6 untuk mata kuliah naqd adaby dan mata kuliah bahasa inggris untuk mahasiswa semester 2. Selama 2 tahun sekembali dari perantauan, sejumlah lembaga pendidikan telah menjadi saksi penyebaran ilmu di kota palembang, diantaranya: Fakultas Adab IAIN Raden Fatah Palembang, MAN 2 Palembang, MA Paradigma Palembang, Universitas PGRI Palembang dan El-Rahma Education. Sejumlah ilmu pun telah disumbangkan diantaranya; Naqd Adaby, Teori Sastra, Bahasa Arab, Bahasa Inggris dan Agama Islam. Pada akhir tahun 2003 diangkat sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dan ditugaskan pertama kali di Fakultas Adab IAIN Raden Fatah Palembang. Sejak Maret 2007 bergabung dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta, berawal sebagai staf pelaksana di instansi tersebut. Pada tahun 2009 mulai terlibat dalam tiga penelitian, antara lain : penelitian naskah klasik keagamaan:studi filologis, penelitian pemetaan dan inventarisasi naskah klasik keagamaan nusantara di Masyarakat dan penelitian pemetaan dan inventarisasi karya ulama nusantara di pondok pesantren. Sekarang sebagai peneliti dibidang lektur keagamaan pada Balai Litbang Agama Jakarta. Pendidikan S.2 pada Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Program Studi Kajian Islam dengan konsentrasi pada Filologi Islam.
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s